Sahabat dalam bisu
Lama tak bicara bukan berarti saya lupa. Saya tahu kamu ada, kamu tahu
saya ada. Saya dan kamu begitu dekat namun, terhalang benteng yang kokoh
dan kaku. Terlalu kuat untuk saya Mae-geri. Terlalu angkuh untuk
diruntuhkan. Belum ada celah untuk satu elektronpun menembusnya. Rapat.
Setiap pertemuan memberi harapan untuk kembali. Kembali ke masa sebelum
benteng itu ada. Andai kamu tahu. Dalam hati, saya berteriak,
"WOYY..AKU DISINI!". Sayangnya bibir ini terlalu beku. Saat itu juga
harapan itu tenggelam bebarengan dengan kamu yang lari dari jarak
pandang kacamata. Inilah hasil hibrida dari usaha-usaha saya yang gagal;
phobia bicara.
Kamu pasti berpikir sayalah yang menyebabkan benteng itu ada. Kamu
benar. Benteng itu adalah manifestasi dari kesalahan-kesalahan saya yang
memfosil karena naluri kebinatangan saya. Kamu berhak marah, sudah
seharusnya. Saya benar khilaf.
Andai kamu tahu. Saya ingin membombardir benteng itu dan memperbaiki
kesalahan saya namun, bagaimanapun juga saya tidak bisa melakukannya
sendirian. Saya perlu bantuan kamu untuk membuat bom atomnya. Saya harap
kamu bisa bantu. Beri tahu saya kapanpun kamu siap. Malam ini, besok,
lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, lima tahun lagi, sepuluh,
dua lima, tiga puluh tahun, atau lima puluh tahun lagi. Saya akan tetap
menunggu.
Untuk kamu, saya ada.