Senin, 14 Oktober 2013

Sahabat dalam bisu

Sahabat dalam bisu


          
             Lama tak bicara bukan berarti saya lupa. Saya tahu kamu ada, kamu tahu saya ada. Saya dan kamu begitu dekat namun, terhalang benteng yang kokoh dan kaku. Terlalu kuat untuk saya Mae-geri. Terlalu angkuh untuk diruntuhkan. Belum ada celah untuk satu elektronpun menembusnya. Rapat.

            Setiap pertemuan memberi harapan untuk kembali. Kembali ke masa sebelum benteng itu ada. Andai kamu tahu. Dalam hati, saya berteriak, "WOYY..AKU DISINI!". Sayangnya bibir ini terlalu beku. Saat itu juga harapan itu tenggelam bebarengan dengan kamu yang lari dari jarak pandang kacamata. Inilah hasil hibrida dari usaha-usaha saya yang gagal; phobia bicara.

            Kamu pasti berpikir sayalah yang menyebabkan benteng itu ada. Kamu benar. Benteng itu adalah manifestasi dari kesalahan-kesalahan saya yang memfosil karena naluri kebinatangan saya. Kamu berhak marah, sudah seharusnya. Saya benar khilaf.

            Andai kamu tahu. Saya ingin membombardir benteng itu dan memperbaiki kesalahan saya namun, bagaimanapun juga saya tidak bisa melakukannya sendirian. Saya perlu bantuan kamu untuk membuat bom atomnya. Saya harap kamu bisa bantu.  Beri tahu saya kapanpun kamu siap. Malam ini, besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, lima tahun lagi, sepuluh, dua lima, tiga puluh tahun, atau lima puluh tahun lagi. Saya akan tetap menunggu.

Untuk kamu, saya ada.

Sahabat, kita satu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar