Senin, 14 April 2014

Teori-teori Sosial

Pendahuluan
Teori-teori sosial merupakan kerangka kerja dari pembuktian empiris yang digunakan untuk mempelajari dan menafsirkan fenomena sosial. Teori-teori sosial berhubungan dengan perdebatan historis seperti positivisme dan antipositivisme. Beberapa teori sosial berusaha untuk tetap saintifik, deskritif, dan objektif. Berikut pemaparan singkat dari beberapa teori sosial.
Teori Konflik
Teori konfik memiliki akar yang luas dan beragam yang berkisar dari pendekatan intra psikis individu Freud hingga pendekatan sistematik pada masyarakat oleh Karl Marx. Teori konflik menjadi popular pada tahun 1960-an ketika feminis dan orang Amerika keturunan Afrika mengkaji ulang teori keluarga yang ada. Teori konflik meneliti cara-cara di mana kelompok yang tidak setuju, berusaha untuk mendapat kekuasaan dan bersaing untuk sumber daya (seperti kekayaan dan prestise). Menurut Thomas Hobbes, tatanan sosial memungkinkan manusia membentuk kontrak sosial yang memberikan hak-hak kepentingan diri untuk hidup dalam masyarakat yang stabil dan hukum masyarakat yang aman.
Teori konflik berasumsi bahwa:
1.      Tidak ada manusia yang tidak memiliki konflik kepentingan. Konflik dibutuhkan untuk perkembangan dan perubahan sosial
2.      Konflik dan perubahan merupakan hal yang normal, tidak dapat dielakan dan ada dimana-mana
3.      Konflik adalah endemis. Bertujuan untuk mengatur konflik sehingga tidak menimbulkan tingkat kerusakan kelompok menjadi individu-individu yang terpisah.
4.      Adanya kelangkaan sumber daya. Konflik terjadi akibat kurangnya sumber daya sehingga manusia tidak dapat memenuhi semua keinginannya. Jika semua orang mendapatkan semua yang diinginkan maka tidak akan ada konflik
5.      Masyarakat terdiri dari berbagai elemen-elemen yang berbeda dan tidak merata. Oleh karena itu hirarki muncul karena ketidakseimbangan kekuasaan. Masyarakat cenderung mempertahankan tatanan hirarki daripada merubah tatanan itu sendiri.

Teori Evolusi
Teori ini berpatokan pada perubahan yang memerlukan proses yang cukup panjang. Dalam proses tersebut, terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui untuk mencapai perubahan yang diinginkan. Ada bermacam-macam teori tentang evolusi. Teori tersebut digolongkan ke dalam beberapa kategori, yaitu unilinear theories of evolution, universal theories of evolution, dan multilined theories of evolution.

a. Unilinear Theories of Evolution
Teori ini berpendapat bahwa manusia dan masyarakat termasuk kebudayaannya akan mengalami perkembangan sesuai dengan tahapan-tahapan tertentu dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang kompleks dan akhirnya sempurna. Pelopor teori ini antara lain Auguste Comte dan Herbert Spencer.

b. Universal Theories of Evolution
Teori ini menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidak perlu melalui tahap-tahap tertentu yang tetap. Kebudayaan manusia telah mengikuti suatu garis evolusi tertentu. Menurut Herbert Spencer, prinsip teori ini adalah bahwa masyarakat merupakan hasil perkembangan dari kelompok homogen menjadi kelompok yang heterogen.

c. Multilined Theories of Evolution
Teori ini lebih menekankan pada penelitian terhadap tahap-tahap perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat. Misalnya mengadakan penelitian tentang perubahan sistem mata pencaharian dari sistem berburu ke sistem pertanian menetap dengan menggunakan pemupukan dan pengairan.



Teori Fungsionalis
Konsep yang berkembang dari teori ini adalah cultural lag (kesenjangan budaya). Konsep ini mendukung Teori Fungsionalis untuk menjelaskan bahwa perubahan sosial tidak lepas dari hubungan antara unsur-unsur kebudayaan dalam masyarakat. Menurut teori ini, beberapa unsur kebudayaan bisa saja berubah dengan sangat cepat sementara unsur yang lainnya tidak dapat mengikuti kecepatan perubahan unsur tersebut. Maka, yang terjadi adalah ketertinggalan unsur yang berubah secara perlahan tersebut. Ketertinggalan ini menyebabkan kesenjangan sosial atau cultural lag.

Para penganut Teori Fungsionalis lebih menerima perubahan sosial sebagai sesuatu yang konstan dan tidak memerlukan penjelasan. Perubahan dianggap sebagai suatu hal yang mengacaukan keseimbangan masyarakat. Proses pengacauan ini berhenti pada saat perubahan itu telah diintegrasikan dalam kebudayaan. Apabila perubahan itu ternyata bermanfaat, maka perubahan itu bersifat fungsional dan akhirnya diterima oleh masyarakat, tetapi apabila terbukti disfungsional atau tidak bermanfaat, perubahan akan ditolak. Tokoh dari teori ini adalah William Ogburn.

Teori Psikologi Sosial

Pendekatan perilaku
Menurut pendekatan perilaku, pada dasarnya tingkah laku adalah respon atasstimulus yang datang. Secara sederhana dapat digambarkan dalam model S - Ratau suatu kaitan Stimulus - Respon. Ini berarti tingkah laku itu seperti reflek tanpakerja mental sama sekali. Pendekatan ini dipelopori oleh J.B. Watson kemudiandikembangkan oleh banyak ahli, seperti B.F.Skinner, dan melahirkan banyak sub-aliran.




Pendekatan kognitif
Pendekatan kognitif menekankan bahwa tingkah laku adalah proses mental,dimana individu (organisme) aktif dalam menangkap, menilai, membandingkan, danmenanggapi stimulus sebelum melakukan reaksi. Individu menerima stimulus lalumelakukan proses mental sebelum memberikan reaksi atas stimulus yang datang.

Pendekatan psikoanalisa
Pendekatan psikoanalisa dikembangkan oleh Sigmund Freud. Ia meyakini bahwa kehidupan individu sebagian besar dikuasai oleh alam bawah sadar.Sehingga tingkah laku banyak didasari oleh hal-hal yang tidak disadari.

Teori Perspektif Alternatif: Konstrutivisme
Perspektif alternatif konstruktivisme hadir sebagai perspektif yang mengkritisi perspektif-perspektif yang telah ada sebelumnya. Konstruktivisme muncul pada masa berakhirnya Perang Dingin pada tahun 1989 seiring dengan bubarnya Pakta Warsawa karena kekalahan Uni Soviet dalam Perang Dingin tersebut. Konstruktivisme merupakan perspektif yang muncul pada perdebatan besar ketiga

Menurut konstruktivis, dunia sosial bukanlah sesuatu yang ‘diberikan’, dunia sosial bukan sesuatu yang hukum-hukumnya dapat ditemukan melalui penelitian ilmiah dan dijelaskan melalui teori ilmiah seperti yang dikemukakan kaum behavioralis dan positivis (Jackson & Sorensen 1999, 307). Dunia sosial dilihat dari segi ontologis merupakan sesuatu yang dibentuk oleh masyarakat yang hidup di dalamnya pada waktu dan tempat tertentu.






Daftar Pustaka

-          Conflict Theory ; http://www.csun.edu/~whw2380/542/Conflict%20theory.htm diakses pada tanggal 08/10/2013

-          Pengantar Ilmu Sosial http://id.scribd.com/doc/102654056/Pengantar-Ilmu-Sosial-Fix#page=77  diakses pada tanggal 08/10/2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar